Sabtu, 24 Oktober 2020

 UV Sterilizer Portabel

Pada masa ini, proses sterilisasi menjadi hal yang sering dilakukan. Pada masa terdahulu, proses sterilisasi dilakukan dengan mencuci menggunakan air mendidih ataupun menggunakan alat khusus sterilisasi seperti autoclave. Saat ini melakukan sterilisasi dapat dilakukan dengan mudah menggunakan sterilizer portabel. Lebih lengkapnya, simak berikut ini.

Tips Memilih UV Sterilizer Dengan Bentuk Portabel

1. Memilih Merek Yang Terpercaya

Ada banyak perusahaan yang mengeluarkan produk jenis sterilizer dalam bentuk portabel. Dengan memperhatikan pada perusahaan mana yang memiliki kualitas terbaik maka anda dapat terjamin mendapatkan produk uv sterilizer dalam bentuk portabel sesuai keinginan. Merek terpercaya akan memproduksi benda yang sudah terjamin memiliki kualitas bagus.

Salah satu contoh merek sterilizer dalam bentuk portabel yang bagus adalah Himax Portabel UVC Sterilizer. Produk ini mampu membunuh virus dan bakteri infeksi penyakit dan sejenisnya hanya dalam waktu 10 detik. Modelnya yang sangat elegan dan cantik serta bentuknya yang mudah di genggam membuat produk ini memiliki banyak kelebihan.

2. Menyesuaikan Laju Sterilisasi Dengan Kebutuhan

 Laju sterilisasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penggunaan lampu UV sterilizer portabel. Apabila anda ingin menemukan barang yang dapat dipindah tempat dengan mudah maka pilihanmu adalah sterilizer bentuk portabel. Berbeda lagi dengan UV Sterilizer yang digunakan untuk membersihkan peralatan bayi. Maka alat yang digunakan lebih baik dalam bentuk tertutup.

3. Memilih Harga Yang Terjangkau

Ada berbagai jenis variasi dari UV sterilizer potable yang dijual di pasaran. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung dari kualitas dan juga bentuk dari sterilizernya. Tidak semua barang dengan harga tinggi memiliki kualitas yang bagus. Ada banyak jenis UV sterilizer yang murah namun memiliki kualitas yang sangat baik. Pilihan ini tergantung pada budget yang anda miliki.

4.   Menyesuaikan Ukuran Dengan Kebutuhan

Ukuran dari UV Sterilizer portabel ini berbeda beda. Ada yang memiliki ukuran besar dan juga memiliki ukuran kecil hingga dapat diletakkan di dalam tas. Ukuran ini disesuaikan dengan kebutuhan anda untuk memiliki UV sterilizer. Apabila anda ingin menggunakannya di luar rumah untuk mensterilkan alat makan di luar maka ukuran paling kecil menjadi pilihan yang tepat.

Apabila ingin menjadikannya sebagai lampu pelindung dari penyakit dan virus yang dapat tersebar di sekitar rumah. Maka pemilihan lampu UV Sterilizer dalam bentuk besar namun tetap bisa dipindahkan kemana aja tidak akan menjadi masalah. Apabila menggunakan lampu jenis ini, dianjurkan untuk tidak terlalu dekat dengan manusia atau hewan, karena sinar UV langsung menyebar.

5. Memilih Baterai Atau Daya Listrik

Menggunakan sterilizer portabel daya yang digunakan dapat berasal dari baterai. Ada juga beberapa yang menggunakan daya listrik, sehingga perlu untuk mengisi daya terlebih dahulu agar dapat digunakan. Mengetahui kapasitas dari baterai yang digunakan dapat menilai hemat tidaknya penggunaan produk. Karena apabila produk membutuhkan daya yang besar maka akan membuat lebih boros.

Apabila menggunakan daya listrik, diharapkan penggunaannya bisa awet. Sehingga saat digunakan di luar rumah tidak perlu khawatir. Penggunaannya dengan daya listrik ini perlu mengisi daya di malam hari dan dapat menggunakannya di keesokan hari. Pilihan penggunaan charger atau baterai dapat disesuaikan dengan keinginan dari masing – masing.

Nah berbagai tips diatas dapat anda lakukan sebelum membeli produk UV sterilizer dalam bentuk portabel. Kebutuhan sterilisasi memang semakin sering dilakukan mengingat banyak bakteri dan virus yang tak kasat mata menyebar di berbagai tempat dan dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu pilihan sterilizer dalam bentuk portabel dapat menjadi pilihan yang tepat bagi anda.


Oktober 24, 2020 Aina Sophia

 UV Sterilizer Portabel

Pada masa ini, proses sterilisasi menjadi hal yang sering dilakukan. Pada masa terdahulu, proses sterilisasi dilakukan dengan mencuci menggunakan air mendidih ataupun menggunakan alat khusus sterilisasi seperti autoclave. Saat ini melakukan sterilisasi dapat dilakukan dengan mudah menggunakan sterilizer portabel. Lebih lengkapnya, simak berikut ini.

Tips Memilih UV Sterilizer Dengan Bentuk Portabel

1. Memilih Merek Yang Terpercaya

Ada banyak perusahaan yang mengeluarkan produk jenis sterilizer dalam bentuk portabel. Dengan memperhatikan pada perusahaan mana yang memiliki kualitas terbaik maka anda dapat terjamin mendapatkan produk uv sterilizer dalam bentuk portabel sesuai keinginan. Merek terpercaya akan memproduksi benda yang sudah terjamin memiliki kualitas bagus.

Salah satu contoh merek sterilizer dalam bentuk portabel yang bagus adalah Himax Portabel UVC Sterilizer. Produk ini mampu membunuh virus dan bakteri infeksi penyakit dan sejenisnya hanya dalam waktu 10 detik. Modelnya yang sangat elegan dan cantik serta bentuknya yang mudah di genggam membuat produk ini memiliki banyak kelebihan.

2. Menyesuaikan Laju Sterilisasi Dengan Kebutuhan

 Laju sterilisasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penggunaan lampu UV sterilizer portabel. Apabila anda ingin menemukan barang yang dapat dipindah tempat dengan mudah maka pilihanmu adalah sterilizer bentuk portabel. Berbeda lagi dengan UV Sterilizer yang digunakan untuk membersihkan peralatan bayi. Maka alat yang digunakan lebih baik dalam bentuk tertutup.

3. Memilih Harga Yang Terjangkau

Ada berbagai jenis variasi dari UV sterilizer potable yang dijual di pasaran. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung dari kualitas dan juga bentuk dari sterilizernya. Tidak semua barang dengan harga tinggi memiliki kualitas yang bagus. Ada banyak jenis UV sterilizer yang murah namun memiliki kualitas yang sangat baik. Pilihan ini tergantung pada budget yang anda miliki.

4.   Menyesuaikan Ukuran Dengan Kebutuhan

Ukuran dari UV Sterilizer portabel ini berbeda beda. Ada yang memiliki ukuran besar dan juga memiliki ukuran kecil hingga dapat diletakkan di dalam tas. Ukuran ini disesuaikan dengan kebutuhan anda untuk memiliki UV sterilizer. Apabila anda ingin menggunakannya di luar rumah untuk mensterilkan alat makan di luar maka ukuran paling kecil menjadi pilihan yang tepat.

Apabila ingin menjadikannya sebagai lampu pelindung dari penyakit dan virus yang dapat tersebar di sekitar rumah. Maka pemilihan lampu UV Sterilizer dalam bentuk besar namun tetap bisa dipindahkan kemana aja tidak akan menjadi masalah. Apabila menggunakan lampu jenis ini, dianjurkan untuk tidak terlalu dekat dengan manusia atau hewan, karena sinar UV langsung menyebar.

5. Memilih Baterai Atau Daya Listrik

Menggunakan sterilizer portabel daya yang digunakan dapat berasal dari baterai. Ada juga beberapa yang menggunakan daya listrik, sehingga perlu untuk mengisi daya terlebih dahulu agar dapat digunakan. Mengetahui kapasitas dari baterai yang digunakan dapat menilai hemat tidaknya penggunaan produk. Karena apabila produk membutuhkan daya yang besar maka akan membuat lebih boros.

Apabila menggunakan daya listrik, diharapkan penggunaannya bisa awet. Sehingga saat digunakan di luar rumah tidak perlu khawatir. Penggunaannya dengan daya listrik ini perlu mengisi daya di malam hari dan dapat menggunakannya di keesokan hari. Pilihan penggunaan charger atau baterai dapat disesuaikan dengan keinginan dari masing – masing.

Nah berbagai tips diatas dapat anda lakukan sebelum membeli produk UV sterilizer dalam bentuk portabel. Kebutuhan sterilisasi memang semakin sering dilakukan mengingat banyak bakteri dan virus yang tak kasat mata menyebar di berbagai tempat dan dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu pilihan sterilizer dalam bentuk portabel dapat menjadi pilihan yang tepat bagi anda.


Kamis, 22 Oktober 2020

Penduduk Desa Daeo Pulau Morotai, 1945.

Morotai 

Disebutkan pertama kali pada era ke-15 dikala Portugis tiba ke Moloku Kie Raha (Maluku Utara), mereka menemukan bahwa pantai timur Halmahera, yang disebut Morotia, dan pulau Morotai dihuni oleh orang-orang yang dikenal sebagai “Orang Moro”.


Morotai pada era ke-13 hingga pada era ke-15 berada dibawa wilayah kerjaan Morotia yang berada di daratan Utara pulau Halmahera yang dipimpin seorang Raja berjulukan Tioliza.



Wilayah Morotai mayoritas penduduknya dari etnis Galela dan Tobelo yang sudah beragama Islam,Kristen serta sebagiannya masih percaya pada agama lelehur (animisme), yaitu Gikimoi (galela) dan Gikirimoi (Tobelo).




Kampung-kampung penting kerajaan Morotia di Morotai adalah:

1. Sakita
2. Mira
3. Cio
4. Rao.


Pada masa Sultan Tabariji (1533-1535), Misi Jusuit Nasrani di Gamlamo kemudian mengutus Frater Simon Vas oleh Gubernur Vincente da Fonceca (1532-1534), ke Morotai dan berhasil 'merombak' trdisi orang-orang Morotai dan merekonstruksinya dengan keyakinan Kristiani. Hingga 1535 pusat-pusat kristen telah berdiri di Morotai, Sakita, Mira, Sopi, Cio, Hapo, Wayabula, Pilowo dan Rao.



Pada masa Sultan Khairun Jamil (1535-1570), pada tahun 1545 seorang pastor Vikaris Simon Vas yang di utus oleh Gubernur Tristao de Ataide (1534-1537), untuk misi Jesuit di Morotai Sao (cio) namun ia dibunuh dikala tengah melaksanakan pembatisan oleh rakyat setempat. Sangaji Cio dan beberapa orang Portugis juga tewas. Dan semenjak insiden pembunuhan pastor Vikaria Simon Vas, tidak ada lagi pejabat Misi Jesuit yang berkunjung ke Morotai, sehingga orang-orang Sao (cio) yang beragama Kristen banyak yang mulai murtad.



Pada tanggal 29 September 1546

Franciscus Xaverius melaksanakan misi Jesuit di Morotai untuk mengantikan pastor Vikaris Simon Vas yanh dibunuh pada tahun 1545 di Morotai.


FX melaksanakan Misi Jesuit ke Sao (cio) kemudian ia meneruskan pelayarannya ke Lofao,Pangeo, dan Misio, kemudian ke Wayabula, Pilowo, Juanga, Momojiu, Mira, dan Sakita. Kampung-kampung terakhir ini ialah sentra Misi Jesuit di Morotai Utara.



Orang Morotai sangat kental respek terhadap salib, gereja, orang suci Kristen, dan nama Jesus Kristus. Menurut keyakinan mereka, semuanya itu akan memberi kekuatan kepada mereka baik secara individual maupun kolektif.




Di Sakita (morotai), dikala terjadi kemarau panjang, kepala desanya pergi ke gereja dan berdoa minta hujan dengan cara memukul-mukul dada, kemudian mengankat sebuah piring berisi minyak kelapa yang biasa dijadikan lampu sembari berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan hujan. Setelah itu kepala desa memberitahukan seluruh penduduk bahwa kalau menghendaki hujan turun, semua rakyat harus membawa minyak kelapa ke gereja sebagai sedekah (Amal 2006:218).


Ketika Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583), menaklukkan Kerajan Moro pada perempatan terakhir era ke-16, Babullah mengabungkan Kerajaan Moro baik Mortia dan Morotai kedalam wilayah kekuasaan Ternate. Bahkan Sultan Babullah mengirim ekspedisi militer ke Galela, kemudian ke Tolo (tobelo), dan ke Morotai.



Pada masa Sultan Mudaffar Syah I (1607 - 1627), Orang morotai (moro) sebanyak 800 orang dijadikan pengayuh bahtera kesultanan dalam setiap ekspedisi.



Pada masa Sultan Sibori Amsterdam (1672-1690) tepatnya pada 1686 sejumlah orang Moro yang berasal dari Morotai, Cio, Sopi, Sakita dan Mira di pindahkan ke Jailolo dan Dodinga.



Versi Tobelo wacana asal muasal orang Galela dan Tobelo yang berawal dari Telaga Lina menyampaikan bahwa Morotai atau Morodai ialah salah satu Hoana (kampung) di telaga Lina.



Kata Morodai berarti moro dari matahari terbit atau moro yang berada di bab timur.

Sama dengan hoana morodina maka hoana morodai juga terbentuk alasannya kerajaan Moro yang terbagi dua. Sehingga kekerabatan masyarakat yang berada di pesisir Galela dengan masyarakat Tobelo pasca rekonsiliasi Tona Malangi membentuk kampung-kampung gres di pulau Morotai, alasannya menurut pengguna dialek kadai (yaitu adonan dialek bahasa Galela dan Tobelo).


Sistem kekerabatan yang telah terbangun ini menciptakan kelompok masyarakat yang berasal dari kampung-kampung pesisir Galela tolong-menolong dengan orang-orang dari Tobelo memakai Morotai sebagai kerikil loncatan untuk mengibarkan panji-panji Canga serta ikut juga sebagai pasukan perang Kesultanan Ternate dan yang lainnya sebagai pasukan perang kesultanan Tidore. Sehingga komunitas masyarakat Galela yang tersebar mulai dari pulau Morotai pantai Timur dan Selatan Halmahera Bacan, Obi, Seram Barat hingga ke Seram timur, Buton, Banggai bahkan hingga ke Filiphina Selatan berasal dari komunitas kerajaan Moro matahari terbit.



Bahasa yang yang digunakan diwilayah Morotai sanggup dilihat dari etnis yang lebih mayoritas yaitu etnis Galela dan Tobelo persebaran bahasa Galela dan Tobelo sanggup lihat dalam setiap kampung-kampung yang berada di Morotai sebagai berikut:



Bahasa Galela tersebar di 5 Kecamatan dan 56 kelurahan/desa.



Di Kecamatan Morotai Utara terdapat di Desa:

1. Bere-Bere
2. Sakita
3. Tawakuli
4. Yao
5. Bido
6. Garua
7. Korago
8. Lusuma
9. Kenari


Di Kecamatan Morotai Timur terdapat di Desa:

1. Bohu-Bohu
2. Wewemo
3. Mira
4. Lifao
5. 
6. Sambiki
7. Sangowo
8. Sambiki Baru


Di Kecamatan Morotai Selatan terdapat di Desa:

1. Gotalamo
2. Daruba
3. Darame
4. Pandanga
5. Juanga
6. Totodoku
7. Momujiu
8. Sabatai Baru
9. Sabatai Tua
10. Daeo
11. Dehegila
12. Pilawo
13. Galo-Galo
14. Kolorae
15. Yayasan
16. Joubela
17. Aha


Di Kecamatan Morotai Jaya Terdapat di Desa:

1. Pangeo
2. Sopi
3. Bere-Bere Kecil
4. Titigogol
5. Hapo
6. Libano
7. Aru
8. Towara
9. Cendana


Di Kecamatan Morotai Selatan Barat terdapat di Desa:

1. Wayabula
2. Tiley
3. Ngele-Ngele Kecil
4. Cucu Mare
5. Aru Irian
6. Waringin
7. Tutuhu
8. Cio
9. Posi-posi
10. Aru Burung
11. Loumadoro.


Sedangkan Bahasa Tobelo tersebar di 5 Kecamatan dan 26 kelurahan/desa.



Di Kecamatan Morotai Utara terdapat di desa:

1. Bere-Bere
2. Sakita


Di Kecamatan Morotai Timur terdapat di desa:

1. Bohu-Bohu
2. Sangowo
3. Sambiki Baru


Di Kecamatan Morotai Selatan terdapat di desa:

1. Gotalamo
2. Daruba
3. Darame
4. Wawama
5. Pandanga
6. Juanga
7. Totodoku
8. Momojiu
9. Sabatai Baru
10. Daeo
11. Pilowo
12. Galo-Galo
13. Kolorae
14. Yayasan
15. Aha
16. Muhajirin


Di Kecamatan Morotai Jaya terdapat di desa:

1. Pangeo
2. Sopi
3. Aru


Di Kecamatan Morotai Selatan Barat tetdapat di desa:

1. Wayabula
2. Tiley
3. Saminyamau.


Dari ulasan sejarah wacana Morotai di atas baik yang saya kutip dari banyak sekali sumber buku biar menambah khanzana pengetahuan serta bermanfaat terhadap pembaca untuk lebih mengenal sejarah Maluku Utara.



Meskipun Ulasan Sejarah di atas tidak tepat dan masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan saya wacana disiplin Ilmu Sejarah serta tumpuan yang didapat. Oleh alasannya itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya harapkan sebagai materi penilaian untuk kedepannya.



Narasi oleh: Muhammad Diadi
Oktober 22, 2020 Aina Sophia
Penduduk Desa Daeo Pulau Morotai, 1945.

Morotai 

Disebutkan pertama kali pada era ke-15 dikala Portugis tiba ke Moloku Kie Raha (Maluku Utara), mereka menemukan bahwa pantai timur Halmahera, yang disebut Morotia, dan pulau Morotai dihuni oleh orang-orang yang dikenal sebagai “Orang Moro”.


Morotai pada era ke-13 hingga pada era ke-15 berada dibawa wilayah kerjaan Morotia yang berada di daratan Utara pulau Halmahera yang dipimpin seorang Raja berjulukan Tioliza.



Wilayah Morotai mayoritas penduduknya dari etnis Galela dan Tobelo yang sudah beragama Islam,Kristen serta sebagiannya masih percaya pada agama lelehur (animisme), yaitu Gikimoi (galela) dan Gikirimoi (Tobelo).




Kampung-kampung penting kerajaan Morotia di Morotai adalah:

1. Sakita
2. Mira
3. Cio
4. Rao.


Pada masa Sultan Tabariji (1533-1535), Misi Jusuit Nasrani di Gamlamo kemudian mengutus Frater Simon Vas oleh Gubernur Vincente da Fonceca (1532-1534), ke Morotai dan berhasil 'merombak' trdisi orang-orang Morotai dan merekonstruksinya dengan keyakinan Kristiani. Hingga 1535 pusat-pusat kristen telah berdiri di Morotai, Sakita, Mira, Sopi, Cio, Hapo, Wayabula, Pilowo dan Rao.



Pada masa Sultan Khairun Jamil (1535-1570), pada tahun 1545 seorang pastor Vikaris Simon Vas yang di utus oleh Gubernur Tristao de Ataide (1534-1537), untuk misi Jesuit di Morotai Sao (cio) namun ia dibunuh dikala tengah melaksanakan pembatisan oleh rakyat setempat. Sangaji Cio dan beberapa orang Portugis juga tewas. Dan semenjak insiden pembunuhan pastor Vikaria Simon Vas, tidak ada lagi pejabat Misi Jesuit yang berkunjung ke Morotai, sehingga orang-orang Sao (cio) yang beragama Kristen banyak yang mulai murtad.



Pada tanggal 29 September 1546

Franciscus Xaverius melaksanakan misi Jesuit di Morotai untuk mengantikan pastor Vikaris Simon Vas yanh dibunuh pada tahun 1545 di Morotai.


FX melaksanakan Misi Jesuit ke Sao (cio) kemudian ia meneruskan pelayarannya ke Lofao,Pangeo, dan Misio, kemudian ke Wayabula, Pilowo, Juanga, Momojiu, Mira, dan Sakita. Kampung-kampung terakhir ini ialah sentra Misi Jesuit di Morotai Utara.



Orang Morotai sangat kental respek terhadap salib, gereja, orang suci Kristen, dan nama Jesus Kristus. Menurut keyakinan mereka, semuanya itu akan memberi kekuatan kepada mereka baik secara individual maupun kolektif.




Di Sakita (morotai), dikala terjadi kemarau panjang, kepala desanya pergi ke gereja dan berdoa minta hujan dengan cara memukul-mukul dada, kemudian mengankat sebuah piring berisi minyak kelapa yang biasa dijadikan lampu sembari berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan hujan. Setelah itu kepala desa memberitahukan seluruh penduduk bahwa kalau menghendaki hujan turun, semua rakyat harus membawa minyak kelapa ke gereja sebagai sedekah (Amal 2006:218).


Ketika Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583), menaklukkan Kerajan Moro pada perempatan terakhir era ke-16, Babullah mengabungkan Kerajaan Moro baik Mortia dan Morotai kedalam wilayah kekuasaan Ternate. Bahkan Sultan Babullah mengirim ekspedisi militer ke Galela, kemudian ke Tolo (tobelo), dan ke Morotai.



Pada masa Sultan Mudaffar Syah I (1607 - 1627), Orang morotai (moro) sebanyak 800 orang dijadikan pengayuh bahtera kesultanan dalam setiap ekspedisi.



Pada masa Sultan Sibori Amsterdam (1672-1690) tepatnya pada 1686 sejumlah orang Moro yang berasal dari Morotai, Cio, Sopi, Sakita dan Mira di pindahkan ke Jailolo dan Dodinga.



Versi Tobelo wacana asal muasal orang Galela dan Tobelo yang berawal dari Telaga Lina menyampaikan bahwa Morotai atau Morodai ialah salah satu Hoana (kampung) di telaga Lina.



Kata Morodai berarti moro dari matahari terbit atau moro yang berada di bab timur.

Sama dengan hoana morodina maka hoana morodai juga terbentuk alasannya kerajaan Moro yang terbagi dua. Sehingga kekerabatan masyarakat yang berada di pesisir Galela dengan masyarakat Tobelo pasca rekonsiliasi Tona Malangi membentuk kampung-kampung gres di pulau Morotai, alasannya menurut pengguna dialek kadai (yaitu adonan dialek bahasa Galela dan Tobelo).


Sistem kekerabatan yang telah terbangun ini menciptakan kelompok masyarakat yang berasal dari kampung-kampung pesisir Galela tolong-menolong dengan orang-orang dari Tobelo memakai Morotai sebagai kerikil loncatan untuk mengibarkan panji-panji Canga serta ikut juga sebagai pasukan perang Kesultanan Ternate dan yang lainnya sebagai pasukan perang kesultanan Tidore. Sehingga komunitas masyarakat Galela yang tersebar mulai dari pulau Morotai pantai Timur dan Selatan Halmahera Bacan, Obi, Seram Barat hingga ke Seram timur, Buton, Banggai bahkan hingga ke Filiphina Selatan berasal dari komunitas kerajaan Moro matahari terbit.



Bahasa yang yang digunakan diwilayah Morotai sanggup dilihat dari etnis yang lebih mayoritas yaitu etnis Galela dan Tobelo persebaran bahasa Galela dan Tobelo sanggup lihat dalam setiap kampung-kampung yang berada di Morotai sebagai berikut:



Bahasa Galela tersebar di 5 Kecamatan dan 56 kelurahan/desa.



Di Kecamatan Morotai Utara terdapat di Desa:

1. Bere-Bere
2. Sakita
3. Tawakuli
4. Yao
5. Bido
6. Garua
7. Korago
8. Lusuma
9. Kenari


Di Kecamatan Morotai Timur terdapat di Desa:

1. Bohu-Bohu
2. Wewemo
3. Mira
4. Lifao
5. 
6. Sambiki
7. Sangowo
8. Sambiki Baru


Di Kecamatan Morotai Selatan terdapat di Desa:

1. Gotalamo
2. Daruba
3. Darame
4. Pandanga
5. Juanga
6. Totodoku
7. Momujiu
8. Sabatai Baru
9. Sabatai Tua
10. Daeo
11. Dehegila
12. Pilawo
13. Galo-Galo
14. Kolorae
15. Yayasan
16. Joubela
17. Aha


Di Kecamatan Morotai Jaya Terdapat di Desa:

1. Pangeo
2. Sopi
3. Bere-Bere Kecil
4. Titigogol
5. Hapo
6. Libano
7. Aru
8. Towara
9. Cendana


Di Kecamatan Morotai Selatan Barat terdapat di Desa:

1. Wayabula
2. Tiley
3. Ngele-Ngele Kecil
4. Cucu Mare
5. Aru Irian
6. Waringin
7. Tutuhu
8. Cio
9. Posi-posi
10. Aru Burung
11. Loumadoro.


Sedangkan Bahasa Tobelo tersebar di 5 Kecamatan dan 26 kelurahan/desa.



Di Kecamatan Morotai Utara terdapat di desa:

1. Bere-Bere
2. Sakita


Di Kecamatan Morotai Timur terdapat di desa:

1. Bohu-Bohu
2. Sangowo
3. Sambiki Baru


Di Kecamatan Morotai Selatan terdapat di desa:

1. Gotalamo
2. Daruba
3. Darame
4. Wawama
5. Pandanga
6. Juanga
7. Totodoku
8. Momojiu
9. Sabatai Baru
10. Daeo
11. Pilowo
12. Galo-Galo
13. Kolorae
14. Yayasan
15. Aha
16. Muhajirin


Di Kecamatan Morotai Jaya terdapat di desa:

1. Pangeo
2. Sopi
3. Aru


Di Kecamatan Morotai Selatan Barat tetdapat di desa:

1. Wayabula
2. Tiley
3. Saminyamau.


Dari ulasan sejarah wacana Morotai di atas baik yang saya kutip dari banyak sekali sumber buku biar menambah khanzana pengetahuan serta bermanfaat terhadap pembaca untuk lebih mengenal sejarah Maluku Utara.



Meskipun Ulasan Sejarah di atas tidak tepat dan masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan saya wacana disiplin Ilmu Sejarah serta tumpuan yang didapat. Oleh alasannya itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya harapkan sebagai materi penilaian untuk kedepannya.



Narasi oleh: Muhammad Diadi

Jumat, 02 Oktober 2020


Pada bulan September 1948 atas arahan dari Pengurus Besar 𝗣𝗜 dibuat lagi satu tubuh diam-diam dengan diberikan nama 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶. Pimpinan tubuh itu berjumlah 8 orang: 𝘒𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘏. 𝘈𝘩𝘮𝘢𝘥, 𝘔.𝘚. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳, 𝘈𝘣𝘶𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘤𝘩𝘮𝘪𝘥, 𝘛𝘫𝘪 𝘗𝘶𝘳𝘣𝘢𝘺𝘢, 𝘞𝘢𝘩𝘢𝘣 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘮, 𝘔. 𝘕𝘶𝘳 𝘈𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘭𝘪𝘢𝘴 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶, 𝘔𝘶𝘯𝘢𝘴𝘦𝘳 𝘈𝘻𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘙.𝘔.𝘔. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳. Badan ini bersifat ilegal dengan kiprah pokok mencari dan mengumpulkan senjata-senjata untuk persiapan mengadakan perlawanan terhadap Belanda.


Bulan pertama sehabis 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 dibuat telah berhasil memperoleh 40 pucuk senapan yang berhasil diambil dari telaga/danau di Galela bersama ribuan pelurunya. Senjata itu dibuang oleh Tentara Jepang pada ketika mereka kalah perang melawan Sekutu. Berhubung pada ketika itu gres sanggup terkumpul 40 pucuk senjata sehingga rencana untuk pemberontakan belum sanggup dilakukan. Dari hasil rapat 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 jalan keluar untuk memperoleh senjata yang banyak tidak ada jalan lain terkecuali melaksanakan tukar barang dengan 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 di Filipina.

Munaser Azis ditugaskan kesana dengan membawa 10 ton 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 pinjaman dari orang bau tanah H. Mare berjulukan Faray Azis. Senjata berhasil diperoleh sebanyak 1.000 pucuk lengkap dengan peluru termasuk senjata otomatis. Sayangnya senjata-senjata ini terpaksa dibuang diperairan Sanger Talaud sewaktu bahtera penes yang memuat senjata dicegat oleh motor patroli Belanda. Munaser Azis lalu dituntut sebagai penyelundup 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 alasannya tidak terdapat bukti-bukti yang lain.


Usaha ini gagal lagi, dengan mandat dari 𝗣𝗜 yang ditanda tangan oleh Aryad Hanafi dan M.S. Djahir masing-masing sebagai Ketua dan Sekertaris Jenderal, Abubakar Bachmid diperintahkan segera ke Jakarta untuk menghubungi para pejuang dalam perjuangan meminta bantuan. Keberangkatan ini ketika RMS siap memproklamasikan keluar dari RI. Dan sewaktu datang di Jakarta beberapa tokoh yang akan dihubungi sedang mengikuti Konperensi Meja Bundar. Walaupun demikian Presiden Ir. Soekarno sanggup ditemui juga dan pribadi disampaikan pernyataan kesetiaan Rakyat Maluku Utara tetap dengan Republik Indonesia. Beberapa hari lalu Wapres M. Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono sanggup ditemui juga.

Untuk memenuhi undangan dari 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 atas nama Rakyat Maluku Utara, Abubakar Bachmid yang didampingi Bapak Arnold Mononutu, Pemerintah RI menugaskan pasukan dari 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗹𝘆𝗼𝗻 𝗕𝗿𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 dengan komandannya Mayor Mujain ke Ternate. Pasukan ini disambut Rakyat dengan besar hati alasannya merupakan Tentara Nasional Indonesia yang pertama masuk di Ternate.

Selanjutnya kepada 8 orang yang menjadi pimpinan 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 diminta kesediaannya untuk tetap didalam Angkatan Perang RI dengan diberikan pangkat Letnan Satu. Tak ada satu orangpun yang mendapatkan semua menolak, dan hanya bersedia menjadi pembantu tetap Staf I Teritorium VII Wirabuana mencakup Indonesia Timur. Komandan Staf I pada waktu itu yakni Kapten Rumambi dan berkedudukan di Makassar.

Baca : Pattimura

𝘋𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶: 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 𝘔𝘢𝘭𝘶𝘬𝘶 𝘜𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘰𝘭𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮𝘦. 𝘏. 𝘏𝘢𝘮𝘪𝘥 𝘒𝘰𝘵𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘢𝘯.
Oktober 02, 2020 Aina Sophia

Pada bulan September 1948 atas arahan dari Pengurus Besar 𝗣𝗜 dibuat lagi satu tubuh diam-diam dengan diberikan nama 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶. Pimpinan tubuh itu berjumlah 8 orang: 𝘒𝘢𝘥𝘦𝘳 𝘏. 𝘈𝘩𝘮𝘢𝘥, 𝘔.𝘚. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳, 𝘈𝘣𝘶𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘤𝘩𝘮𝘪𝘥, 𝘛𝘫𝘪 𝘗𝘶𝘳𝘣𝘢𝘺𝘢, 𝘞𝘢𝘩𝘢𝘣 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘮, 𝘔. 𝘕𝘶𝘳 𝘈𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘭𝘪𝘢𝘴 𝘚𝘢𝘣𝘵𝘶, 𝘔𝘶𝘯𝘢𝘴𝘦𝘳 𝘈𝘻𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘙.𝘔.𝘔. 𝘋𝘫𝘢𝘩𝘪𝘳. Badan ini bersifat ilegal dengan kiprah pokok mencari dan mengumpulkan senjata-senjata untuk persiapan mengadakan perlawanan terhadap Belanda.


Bulan pertama sehabis 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 dibuat telah berhasil memperoleh 40 pucuk senapan yang berhasil diambil dari telaga/danau di Galela bersama ribuan pelurunya. Senjata itu dibuang oleh Tentara Jepang pada ketika mereka kalah perang melawan Sekutu. Berhubung pada ketika itu gres sanggup terkumpul 40 pucuk senjata sehingga rencana untuk pemberontakan belum sanggup dilakukan. Dari hasil rapat 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 jalan keluar untuk memperoleh senjata yang banyak tidak ada jalan lain terkecuali melaksanakan tukar barang dengan 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 di Filipina.

Munaser Azis ditugaskan kesana dengan membawa 10 ton 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 pinjaman dari orang bau tanah H. Mare berjulukan Faray Azis. Senjata berhasil diperoleh sebanyak 1.000 pucuk lengkap dengan peluru termasuk senjata otomatis. Sayangnya senjata-senjata ini terpaksa dibuang diperairan Sanger Talaud sewaktu bahtera penes yang memuat senjata dicegat oleh motor patroli Belanda. Munaser Azis lalu dituntut sebagai penyelundup 𝙠𝙤𝙥𝙧𝙖 alasannya tidak terdapat bukti-bukti yang lain.


Usaha ini gagal lagi, dengan mandat dari 𝗣𝗜 yang ditanda tangan oleh Aryad Hanafi dan M.S. Djahir masing-masing sebagai Ketua dan Sekertaris Jenderal, Abubakar Bachmid diperintahkan segera ke Jakarta untuk menghubungi para pejuang dalam perjuangan meminta bantuan. Keberangkatan ini ketika RMS siap memproklamasikan keluar dari RI. Dan sewaktu datang di Jakarta beberapa tokoh yang akan dihubungi sedang mengikuti Konperensi Meja Bundar. Walaupun demikian Presiden Ir. Soekarno sanggup ditemui juga dan pribadi disampaikan pernyataan kesetiaan Rakyat Maluku Utara tetap dengan Republik Indonesia. Beberapa hari lalu Wapres M. Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono sanggup ditemui juga.

Untuk memenuhi undangan dari 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 atas nama Rakyat Maluku Utara, Abubakar Bachmid yang didampingi Bapak Arnold Mononutu, Pemerintah RI menugaskan pasukan dari 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗹𝘆𝗼𝗻 𝗕𝗿𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 dengan komandannya Mayor Mujain ke Ternate. Pasukan ini disambut Rakyat dengan besar hati alasannya merupakan Tentara Nasional Indonesia yang pertama masuk di Ternate.

Selanjutnya kepada 8 orang yang menjadi pimpinan 𝗕𝗮𝗸𝘁𝗶 diminta kesediaannya untuk tetap didalam Angkatan Perang RI dengan diberikan pangkat Letnan Satu. Tak ada satu orangpun yang mendapatkan semua menolak, dan hanya bersedia menjadi pembantu tetap Staf I Teritorium VII Wirabuana mencakup Indonesia Timur. Komandan Staf I pada waktu itu yakni Kapten Rumambi dan berkedudukan di Makassar.

Baca : Pattimura

𝘋𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘶: 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘬𝘺𝘢𝘵 𝘔𝘢𝘭𝘶𝘬𝘶 𝘜𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘳𝘪 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘰𝘭𝘰𝘯𝘪𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮𝘦. 𝘏. 𝘏𝘢𝘮𝘪𝘥 𝘒𝘰𝘵𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘢𝘯.